Kali ini saya akan mencoba menghadirkan resep pindang ikan patin segar yang yummy abis gila. Ehm, kalo ada yang belum tau apakah itu pindang, inilah gambar pindang hasil eksperimen saya selama satu jam di dapur pagi-menjelang-siang tadi.
Jeng jeng..
Nggak keliyatan? Kalau Anda mengalami sedikit ketidakjelasan dalam melihat gambar tersebut, silakan cek ke dokter mata karena mungkin mata Anda bermasalah. (yee ngarang, padahal gambarnya emang enggak jelas). Mestinya begini, jika Anda masih tidak mengetahui apakah itu pindang, sebaiknya Anda bertanya disini.
Sebenernya masak pindang itu nggak susah-susah amat ya. Saya yang jauh dari expert untuk urusan masak-memasak ternyata bisa menghasilkan menu pindang ikan patin segar yang yummy abis gila seperti pada gambar di atas. Mau tau rahasianya? Inilah resep Pindang Meranjat yang saya ambil dari sumber terpercaya. Hehe..
Bahan:
500 gram ikan patin segar
2 liter air (kira-kira aja yaa, banyak sedikitnya air sesuai selera, saya suka yang banyak kuahnya)
3 batang daun bawang potong kira-kira sepanjang korek api
75 gram nanas (kali ini saya nggak pakek)
Daun kemangi sesuai selera (saya pakai sekitar 5-8 tangkai)
5 buah cabe rawit utuh (saya nggak pakek lagi hehe)
1 batang serai, memarkan
2 cm lengkuas dan 2 cm kunyit, memarkan
2 buah tomat ukuran sedang
1 sdm gula pasir
Garam secukupnya
Bumbu yang dihaluskan:
5 cabe merah besar
6 siung bawang merah
4 siung bawang putih
1 sdt terasi
Cara membuat:
Rebus bumbu halus beserta cabe rawit utuh, serai, lengkuas, dan kunyit. Setelah air mendidih, masukkan ikan dan bumbu yang lain (kecuali kemangi). Setelah air mendidih kembali, tunggu hingga ikan betul-betul matang. Terakhir masukkan daun kemangi.
Hemm, mungkin sebagian dari Anda belum pernah mencicipi Pindang Meranjat ini. Rasanya jelas berbeda dengan pindang tulang iga sapi misalnya. Pindang Meranjat ikan patin ini kuahnya berasa sedikit asem, pedes, manis, ehmm.. Ya gitu deh (penjelasan yang nggak jelas).
Oiya, pernah waktu itu keluarga Ibu saya dari Jogja sedang berlibur ke Sumatera. Dia adalah Bulik saya yang cantik jelita.. Mehehe.. Saya dan Ibu telah menyiapkan menu pindang (tapi bukan Pindang Meranjat waktu itu) yang juga yummy abis gila. Ternyata Bulik saya dari Jogja komplen karena ikannya kaya’ masih berenang-renang gitu.. Untuk mengatasi kejadian seperti ini, Anda boleh menggoreng setengah matang ikan patinnya sebelum diceburkan ke dalam air di panci. Tapi jangan digoreng kering yaa.. Bukan pindang lagi dong namanya, itu mah ikan patin goreng..
Mungkin sebagian dari Anda ada juga yang bertanya-tanya, mengapa dinamakan Pindang Meranjat? Apakah ikannya bisa memanjat? Jadi begini, ada sebuah daerah di sekitar Palembang yang namanya Kampung Meranjat. Dan konon ceritanya, orang-orang Meranjat ini pinter banget membuat pindang yang yummy abis gila, dan pindang tersebut menjadi pindang khas daerah Meranjat. Apa bedanya dengan pindang-pindang yang laen? Well, you (probably) have read komposisi bumbu yang digunakan untuk membuat pindang, yakni menggunakan terasi dan cabe merah yang dihaluskan. Cabe merah itu digunakan untuk memberi warna merah (kalo hitam namanya cabe hitam, emang ada?). Sementara kuah pindang-pindang yang laen kebanyakan berwarna kuning muda (warna kunyit).
Mengapa saya memilih resep Pindang Meranjat? Bukan karena saya suka memanjat atau saya punya pacar orang Meranjat ya.. *cailah*
Saya suka Pindang Meranjat karena saya suka aroma terasinya. Muahahaha. Indonesian banget yaa.. Hidup makanan khas daerah Indonesia!
NB: Pindang enaknya dimakan selagi hangat, bila perlu selagi panas. Karena kalau Anda tunggu sampai dingin, kemungkinan besar Anda tidak akan dapat menikmatinya karena sudah didahului teman Anda. Selamat mencoba!


2 komentar:
mantep..
jadi pengen pulang kerumah nih :D
Weh aneh nanti kalo ijin kerja alesannya karena kangen pengen makan pindang.. Hehehe..
Posting Komentar